Halo sahabat selamat datang di website jasadozer.uno, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Pukulan bertubi-tubi untuk sektor alat berat oleh - jasadozer.uno, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Produksi alat berat di Indonesia diproyeksikan akan mengalami penurunan hingga 52 persen karena pandemic virus corona baru (Covid-19)

Jajaran excavator kelas 30 ton Komatsu, PC300LC, yang sedang dalam proses perakitan pada fasilitas produksi Komatsu Indonesia di Jakarta (Foto: EI)

Krisis kesehatan masyarakat yang dipicu oleh wabah penyakit virus corona baru (Covid-19) membuat sektor alat berat makin tertekan. Harga komoditas batubara yang masih lesu sejak beberapa tahun lalu membuat penjualan alat berat anjlok dan diperkirakan akan semakin tertekan pada tahun ini karena gempuran Covid-19.

Ketua Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI) Adrianus Hadiwinata mengatakan dampak Covid-19 ke industri alat berat datang dari tiga sisi. Pertama, dari sisi permintaan (demand), yaitu permintaan alat-alat baru. Berbagai protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran SARS-COV-2 (virus penyebab Covid-19), seperti social dan physical distancing, work from home (WFH), pengaturan jam kerja dan lainnya menyebabkan pengerjaan proyek terhambat dan melambat. “Karena itu permintaan atas alat berat baru berkurang,” ujarnya kepada Equipment Indonesia, Kamis (2/4).

Kedua, serangan terhadap industri alat berat juga datang dari sisi supply. Adrianus mengatakan walaupun sekitar 40% kebutuhan alat berat di Indonesia sudah diproduksi di dalam negeri, tetapi sebagian besar â€" 50% hingga 60% â€" masih diimpor karena memang belum bisa diproduksi di dalam negeri. Sementara negara-negara eksportir alat berat ke Indonesia seperti Jepang, Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa, pada saat yang bersamaan juga menghadapi wabah penyakit yang sama sehingga produksi terganggu. China yang menjadi episentrum awal wabah ini memang sudah berangsur-angsur pulih, tetapi tidak serta-merta produksi kembali berjalan normal. Produksi  di dalam negeri juga terganggu karena masih banyak komponennya yang diimpor. Rantai pasok masih terganggu.

Ketiga, daya beli yang melemah. Dengan masih tingginya tingkat impor baik alat CBU maupun komponen, pelemahan nilai tukar rupiah tehadap berbagai mata uang yang terjadi saat ini, menurut Adrianus, membuat harga jual alat naik, sementara di sisi lain daya beli sedang melemah. “Apalagi kalau barang-barangnya masih Completely Build Up (CBU), sedangkan customer di sini belum tentu bisa menyerap harga yang meningkat 20-30%. Itu luar biasa peningkatannya,” ujar Adrianus.

Karena berbagai faktor tersebut, Adrianus mengatakan dampak Covid-19 sangat signifikan pada industri alat berat tanah air. Ia mengatakan karakterisitk industri alat berat yang membutuhkan interaksi tatap muka, sementara pandemi Covid-19 mengharuskan orang untuk mengurung di rumah, dipastikan membuat penjualan pun akan terganggu. “Kalau kita tidak bisa ketemu orang sudah pasti slow down. Harapannya tidak sampai shut down,” ujarnya.

Produksi alat nasional turun drastis

Kiswanto, Mining Product Lifecycle Manager PT Trakindo Utama, bersama excavator tambang 6020B (Foto: Dok. pribadi)

Ketua Himpunan Industri Alat Berat Indonesia (Hinabi), Jamaluddin, mengatakan produksi alat berat dalam negeri dipastikan akan melorot tajam akibat wabah Covid-19. Ia mengatakan sebelum adanya wabah ini, Hinabi memperkirakan tahun ini produksi alat berat turun 7% karena harga batubara yang lesu. Namun, setelah ada Covid-19, proyeksi produksi alat berat menjadi kian suram.

“Prediksi sebelum Covid kita hanya turun 7% dari tahun 2019, dampak  Covid kita ada penurunan lagi 45%. Jadi, totalnya 52% (penurunannya),” ujar Jamaluddin kepada Equipment Indonesia, Kamis (16/4).

Jamaluddin mengatakan Covid-19 membuat operasional produsen alat berat harus menyesuaikan dengan protokol yang ditetapkan pemerintah. Di sisi lain, pasokan bahan baku juga sulit karena mobilitas yang dibatasi. Kemudian di sisi lain, permintaan juga turun karena daya beli menurun.

“Kita mau tidak mau yang paling penting sekarang adalah bertahan. Berupaya supaya tidak ada PHK.  Pengurangan karyawan sudah pasti ada, kontrak-kontrak yang habis kita tidak perpanjang. Kata kuncinya bertahan,” ujar Jamaluddin.

Menurutnya, semua jenis alat berat seperti bulldozer, excavator dan lainnya permintaannya turun drastis. Tahun lalu, total produksi alat berat anggota Hinabi mencapai 6.060 unit. “Jadi, kita prediksi pada tahun ini penurunannya di level 3000-an,” ungkapnya.

Kiswanto, Mining Product Lifecycle Manager PT Trakindo Utama, mengatakan di tengah pandemi Covid-19 saat ini, pertemuan dengan customer memang masih dilakukan melalui teleconference. “Tetapi jadi melambat semua karena customer juga sudah terpukul oleh harga batubara yang masih jelek, ditambah isu virus corona. Sudah lengkap,” ujarnya kepada Equipment Indonesia, Sabtu (11/4).

Kiswanto mengatakan hampir semua brand alat berat mengalami masalah yang sama, penjualan turun selama paruh peratma 2020 ini. Apalagi pemerintah juga mengubah fokus anggarannya untuk mengatasi wabah. Akibatnya, kata Kiswanto, proyek-proyek konstruksi ada yang ditahan (pending).

Menurutnya, karena pandemi Covid-19 ini, market size untuk excavator kelas di atas 100 ton (semua brand) akan turun 40%. Tahun lalu, dari estimasi yang terjual 120 unit, yang terealisasi 90 unit. “Tahun ini diperkirkan hanya 65 unit. Sampai Maret yang terjual mungkin baru 4 unit,” ujarnya.

Caterpilar sendiri, menurut Kiswanto, diperkirakan mampu menjual 20% dari total market size excavator kelas 100 ton ke atas tersebut.

Selain penurunan yang lesu, sejumlah agenda yang direncanakan tahun lalu juga terhambat karena Covid-19 ini. Trakindo, misalnya, berencana meluncurkan  Caterpillar Rotary Drill MD6200 pada Mei nanti. Tetapi baru akan terealisasi setelah kondisi wabah ini terkendali.  “Itu kita suspend dulu, karena tidak boleh mengumpulkan orang di tengah pandemi virus corona. Sampai kondisinya membaik,” ujarnya.

Eddy Gunawain, Sekretaris Perusahaan  PT Superkrane Mitra Utama Tbk, mengatakan pandemi Covid-19 belum terlalu berdampak signifikan kepada kinerja perusahaan yang menyewa crane ini. “Ada penundaan sedikit saja, penundaan pemesanan dari penyewa,” ujar Eddy kepada Equipment Indonesia, Kamis (9/4). Hal itu terjadi karena ada sebagian proyek di lapangan yang tertunda.

Tetapi, menurut Eddy pemesanan yang tertunda itu tidak terlalu banyak. “Tidak sampai 10%,” ujarnya tanpa memerinci lebih detil. Ia mengatakan karena kondisi sekarang pihaknya masih sulit memprediksi pertumbuhan pendapatan pada tahun ini. Sebelum ada ada Covid-19, pendapatan ditargetkan tumbuh 10% hingga 15%. “(Dengan adanya Covid-19) proyeksinya bisa lebih kecil,” ujarnya.

Aktifitas bongkar muat masih bergairah

Mesin-mesin excavator Hitachi yang diproduksi oleh PT Hitachi Construction Machinery Indonesia (Foto: EI)

Di tengah kondisi yang lesu ini masih ada secercah harapan.  PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) yang menangani bongkar muat kendaraan termasuk alat berat merekam masih adanya geliat aktifitas perpindahan alat berat baik di pasar ekspor-impor maupun pengiriman antara daerah di Indonesia.

Anak usaha PT Pelindo II ini mencatat total alat berat yang ditangani melalui pelabuan yang dioperasikannya untuk kegiatan ekspor mencapai 2.171 unit atau meningkat 190,24% year on year dibandingkan periode yang sama di tahun 2019 sebanyak 748 unit.

Sementara itu, untuk kegiatan impor masih terlihat rendah dengan pertumbuhan minus 55,96% sebanyak 1.381 unit dibandingkan 3.136 unit pada periode tiga bulan pertama di tahun 2019.

Sedangkan, jumlah bongkar muat alat berat di lapangan domestik sepanjang triwulan pertama 2020 mencapai 5.532 unit atau lebih tinggi 80,31% dibandingkan triwulan pertama 2019 sebanyak 3.068 unit.

Investor Relation IPCC, Reza Priyambada,  mengatakan masih adanya permintaan akan alat berat di sejumlah wilayah di dalam negeri turut membantu kegiatan bongkar muat alat berat di lapangan domestik IPCC. “Hal ini memperlihatkan bahwa kegiatan maupun layanan operasional di Terminal IPCC masih berlangsung secara normal meski di tengah imbas penyebaran Covid-19,” ujarnya.

Di sisi lain, masih adanya permintaan alat berat berskala kecil-menengah di sejumlah industri turut berimbas positif pada layanan bongkar muat di Terminal IPCC sekaligus memperlihatkan bahwa adanya pandemik Covid-19 tidak serta merta membuat semua industri tutup. Namun, masih beroperasi meski terjadi pembatasan kegiatan operasional. (EI)

129 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Itulah tadi informasi mengenai Pukulan bertubi-tubi untuk sektor alat berat oleh - jasadozer.uno dan sekianlah artikel dari kami jasadozer.uno, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Next
Posting Lebih Baru
Previous
This is the last post.

Posting Komentar

 
Top